Posted on: January 10, 2021 Posted by: publisher Comments: 0

Harga Emas Bakal Kembali Cetak Rekor Tertinggi, Ini Penyebabnya

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi, menyebutkan pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS terhadap 20 Januari 2021 dapat mendorong kenaikan harga emas. Harga emas diprediksi dapat menggapai level tertingginya terhadap kuartal I 2021, yaitu USD 2.045 per troy ounce (toz).

Pada kuartal I ini, katanya, AS dapat mengeluarkan banyak kebijakan yang kemungkinan mempunyai indeks dolar melemah dan harga emas mengalami kenaikan.

“Penurunan besar indeks dolar AS dapat berjalan ke 87, pas itu lah emas menyentuh level USD 2.045 per troy ounce. Kalau tidak, emas dapat susah menggapai level tersebut, di angka USD 2.000 per troy ounce udah memadai bagus,” tahu Ibrahim pas dihubungi Liputan6.com terhadap Jumat (8/1/2021).

Kenaikan harga emas tidak dapat berjalan lama. Fluktuasi dapat menggapai level paling rendah terhadap kuartal III 2021 bersama harga USD 1.600 per troy ounce. Hal ini disebabkan vaksinasi udah merata, dan penduduk udah mulai bekerja seperti biasa.

Perekonomian udah mulai menggeliat, lantas pilihan investasi pun dapat berubah ke saham dan obligasi.

“Jika vaksinasi udah berjalan bersama baik, maka perekonomian dapat ikut membaik,” tutur Ibrahim.

Harga Emas Tergelincir Dolar AS yang Perkasa

Harga emas tergelincir terbebani Dolar AS yang menguat dan juga imbal hasil Treasury AS yang lebih tinggi. Meski demikian, kerugian harga emas sedikit tertutupi prediksi jikalau kucuran semangat fiskal dapat lebih besar di bawah pemerintahan yang dipimpin Demokrat.

Melansir laman CNBC, Jumat (8/1/2021), harga emas di pasar spot turun 0,3 % menjadi USD 1.913,87 per ounce. Emas berjangka AS ditutup naik 0,3 % menjadi USD 1.913,60.

Harga emas tergelincir sebanyak 2,5 % usai menggapai level tertinggi sejak 9 November. Itu gara-gara imbal hasil Treasury AS 10-tahun melonjak di atas 1 % untuk pertama kalinya sejak Maret.

“Imbal hasil treasury yang lebih tinggi menarik lebih dari satu “uang pelarian dari pasar emas,” kata Bob Haberkorn, pakar siasat pasar senior di RJO Futures. Meski sayangnya, penguatan Dolar AS membebani emas.

Indeks dolar rebound dari level paling rendah multi-tahun, mengakibatkan bullion kurang menarik bagi pemegang mata duwit lainnya.

Kemenangan Demokrat didalam putaran kedua Senat AS mengakibatkan ekspektasi inflasi gara-gara investor menambah taruhan dapat semangat fiskal yang lebih banyak. Sementara Kongres AS udah mengesahkan kemenangan Presiden terpilih Joe Biden.

“Kemenangan ganda Demokrat di Georgia menambah ekspektasi pertolongan semangat yang lebih besar dan membeli infrastruktur yang lebih tinggi,” kata Analis Standard Chartered Suki Cooper, memberi tambahan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi yang dihasilkan dapat membantu momentum kenaikan emas.

Harga Logam Lainnya

Di segi teknis, emas tidak kembali berada di wilayah ‘overbought’ dan USD 1.965 per ounce adalah level resistensi utama, kata Suki, bersama pertolongan jangka pendek di posisi sekitar USD 1.894.

Logam non-imbal hasil dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata duwit kemungkinan dipicu oleh langkah-langkah semangat yang meluas.

“Akan tersedia lebih banyak segi negatif untuk dolar, dan itu terhitung dapat menjadi bullish untuk logam,” kata analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff.

Adapun harga perak turun 1 % menjadi USD 27,02 per ounce. Platinum naik 0,8 % menjadi USD 1.110,33, dan paladium turun 1,2 % menjadi USD 2.408,69.

 

Leave a Comment